TRADISI NJUJUNG BERAS PIHER DALAM BUDAYA BATAK KARO

SELAYANG PANDANG

Bangsa Indonesia ialah suatu bangsa yang memiliki keanekaragaman, suku, bahasa dan lain sebagainya. Namun pun demikian keragaman itu diikat dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika (Walau pun berbeda- beda tetapi tetap satu juga). Sehingga tidak ada cara kita untuk membuat pengelompokan yang membuat kita berbeda. Dalam konteks ini, kita akan membahas mengenai budaya Indonesia. Karena beragamnya budaya itu maka kita akan membatasi topik ini, yakni budaya salah satu suku di pulau Sumatera Utara yakni suku Batak Karo.

Secara geografis suku Batak Karo ini berdomisili di daerah yang dingin dan sejuk, hal tersebut dikarenakan selain daerah ini dikelilingi oleh bukit barisan juga ada dua Gunung yang menghapit daerah ini yakni Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Daerah ini memiliki potensi dalam bidang agraris. Daerah Karo ini masuk dalam daerah Tingkat II Kabupaten Karo. Yang dikepalai oleh seorang bupati.

Dan jelas bahwa para penghuni daerah ini adalah orang- orang yang bersuku Batak Karo yang memiliki kebudayaan, adat istiadat pun tradisi. Salah satunya tradisi itu dan masih terpelihara sampai sekarang ialah Tradisi Njujung Beras Piher, walau pun tradisi ini sudah mengalami perubahan karena jaman, tetap hal-hal yang pokok masih diperhatikan.

Seperti sudah disampaikan sebelumnya tadi bahwa tradisi ini sadar atau tidak sadar sudah terpengaruh dengan jaman kendati pengaruh itu sama sekali tidak menghilangkan makna asli dari tradisi ini, misalnya dengan datangnya agama ke tanah Batak Karo. Hal inilah yang ingin penulis jabarkan dalam artikel sederhana ini.

TRADISI NJUJUNG BERAS PIHER

Tradisi Njujung Beras Piher ialah suatu upacara yang dilakukan kepada seseorang sebagai ucapan syukur dan agar selamat, karena sukses dalam menjalankan tugas tertentu[1]. Selain itu, tradisi ini juga digunakan untuk upacara kepercayaan dan penghormatan. Ungkap itu pun lebih banyak ditambah orang itu dengan situasinya, ada yang dibarengi dengan makan bersama dan diberikan bantuan berupa materi, berupa uang, beras, kebutuhan pokok, singkatnya sesuai dengan situasi pelaksana dan suasana hatinya.

Tradisi Njujung Beras Piher tetap diperhatikan dan diberlakukan kepada[2] :

  1. Orang yang sudah lama tak pulang muncul kembali,
  2. Orang luput dari marabahaya,
  3. Orang yang telah lam menderita sakit dan sembuh kembali,
  4. Orang yang dianggap terhormat dan berjasa,
  5. Kepada tamu yang diagungkan.

PERALATAN DAN MAKNANYA

Dalam menjalankan tradisi ini, ada beberapa alat yang dibutuhkan dan semuanya memiliki maknanya tersendiri. Hal- hal itu hendaknya disediakan demi terselenggaranya acara itu dengan baik dan efektif.  Alat- alat itu antara lain ialah[3] :

Peralatan Makna
Beras page si tunggang Keharmonisan, keseimbangan, kejujuran
Lada (Merica) Ersada kata (Persatuan)
Sira (Garam) Masin kata (Kewibawaan)
Uis Arinteneng

(Kain adat Karo)

Tenang tendi i rumah (Ketentraman)
Tumba rempu kuling- kuling Lambang sangkep ngeluh (Kekeluargaan)
Tinaruh (Telur ayam) Pengaruh (pengaruh)
Belo bujur (Daun Sirih) Persembahan kepada Tuhan yang Mahakuasa

Dari tabel di atas masih ada lagi beberapa hal yang dibutuhkan dalam tradisi ini.

Cara Melakukannya

Bagi orang yang akan Njujung Beras Piher itu. Duduk tersendiri. Kemudian Ibunya datang melakukannya, mendekat sambil membawa Perakan (= tempat beras atau nasi yang dianyam dari daun kuang yang telah diolah) berisikan beras dan ambil sedikit dari perakan itu sebanyak 11 kali dan menabur di kepalanya sambil berkata[4] :

Sada, ersada tendi kurumah,

Dua, ola erdua- dua muat ukur simehuli,

Telu, taluken pinakit, taluken sirukur la mehuli,

Empat, selpat nipi gulut, selpat liah- liah bunga kleasa,

Lima, ertima tendi i rumah,

Enem, gelem bekas latih, gelem kini bayaken,

Pitu, pitut perukuren si la mehuli, pitut bahan- bahanen nu kalak si la mehuli, pitut liah- liah,

Waluh, erngaruh ku sienterem, erngaruh ku sangkep ngeluh, erngaruh ku kade- kade,

Siwah, nilah kerina pinakit, nilah entem nu begu, nilah gerek- gerekken si la mehuli.

Sepulu sada, ersada tendi kurumah.

TRADISI NJUJUNG BERAS PIHER DAN GEREJA

Dewasa tradisi Njujung Beras Piher ini, masih terpelihara dengan baik. Sebagai peninggalan, tradisi ini diwariskan kepada generasi seterusnya. Seperti disebutkan diatas tadi bahwa kendati pun sudah mengalami perubahan, makna yang terkandung masih terpelihara dengan baik. Jelas tampak tatkala agama mulai masuk ke Tanah Karo. Agama itu cukup berpengaruh dalam pelaksanaannya. Dahulu, berdoa itu diarahkan kepada leluhur, namun melalui agama doa ditujukan kepada Allah yang Mahakuasa.

Masuknya agama- agama itu tidaklah gampang, pewarta harus menunjukkan khrismanya dan jika mungkin untuk tidak memaksa orang untuk masuk ke agama tertentu. Maka mereka dengan cara tertentu ‘menawarkan’ agama itu. Karena  adat istiadat yang pertama kali yang dikenal dan dianut oleh suku tertentu, maka menerobos adat istiadat itu adalah salah satu cara untuk membuka kepercayaan kepada masyarakat suku tersebut.

Salah satu agama yang menerima adat istiadat itu masuk kedalam liturgi adalah KATOLIK ROMES[5], atau dewasa ini disebut dengan agama Roma Katolik. Itu terjadi di daerah Karo.

SAKRAMEN PERNIKAHAN

Acara pemberian sakramen pernikahan, atau dalam Bahasa Karo disebut Pemasu- Masun Tumbuk Erdemu Bayu, dalamnya tradisi ini cukup ditonjolkan. Sesudah acara pernyataan janji nikah maka imam mengambil Beras Piher, meletakkanya diatas kepala kedua mempelai sambil mengucapkan kesebelas ujud yang disampaikan di atas kemudian dilanjutkan dengan orang tua dan sanak keluarga, dengan cara yang sama[6]. Hal ini dilakukan untuk menyampaikan selamat menempuh hidup baru dan agar segala sesuatu yang menghalangi kebahagiaan mempelai menjauh dari padanya. Peranan imam, yang penulis lihat dari peristiwa ini ada dua hal yakni sebagai jabatan gereja kudus dan juga sebagai bagian dari adat itu sendiri.

REFLEKSI

Gereja Katolik yang (dalam proses) inkulturasi itu, begitu mendapat nilai positif dalam masyarakat, khususnya dalam suku Karo. Hal tersebut dikarenakan ada juga agama yang menolak mentah- mentah tentang eksistensi budaya. Dimana budaya itu sendiri seolah- olah dianggap tidak ada, kendatipun secara pandangan penulis bahwa hal itu tidak dapat mereka hindarkan. Jadi timbul pertanyaan manakah lebih duluan hadir adat/ tradisi itukah atau agama itu?

Namun pun demikian, itu semua adalah kekayaan. Dan secara pribadi saya sangat menolak kalau agama itu anti dengan latar belakang manusia itu (entah disebut itu adat istiadat, budaya, tradisi) itu semua merupakan bagian hidup kita sebagai menusia karena budaya yang lebih pertama kali diperkenalkan kepada kita, sejak lahir. Bagaimana dengan kita masih dapatkah kita melihat  budaya daerah di gereja kita? Ataukah kita malu akan  budaya yang kita miliki ? Saatnya kita berani mengekspresikan budaya kita sebagai kekayaan bangsa dan negara kita.


[1] Priest Darwin, SH, Budaya Karo, Bina Media Printis, Medan 2000, hlm. 256

[2] Sitepu Sempa, dkk. Pilar Budaya Karo, BALI scan, Medan, hlm. 176

[3] Ibid,…… hlm. 257

[4] Tamboen P, Adat Istiadat Karo. Mati Bersalin. hlm. 119

[5] Saragih Thomas, dkk, Cita dan Cerita Kapusin, Bina  Media Perintis, Medan.

[6] Peristiwa ini dihadiri dan disaksikan oleh penulis sendiri. Memang demikian terjadi di daerah Karo dan menurut pengamatan penulis di daerah batak Toba dan Simalungun pun berlaku hal demikian.

Lukisan seorang Rahib

Aku

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: