Dunia Kampus

Hari ini mengobati masa lalu dan untuk mempersiapkan masa depan

Hari ini mengobati masa lalu dan untuk mempersiapkan masa depan

Semua adalah kumpulan tugas dan tulisan lain yang mungkin berguna; selain itu juga untuk menyimpan pengetahuan ini agar tidak dimakan Ngengat dan sebainya.

 PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI

 

KONSENTRASI STUDI PUBLIC RELATIONS – HUBUNGAN MASYARAKAT (HUMAS)

 

PENDAHULUAN

Dalam membahas suatu pemahaman mengenai visi dan misi dalam suatu perusahan dibutuhkan sosok yang mampu mengeksposnya. Sosok tersebut harus memiliki kriteria yang memadai dan cakap dalam menentukan sikap terkhusus dalam membeberkan informasi. Selain itu dia juga harus mampu masuk dengan lepas bebas ke dalam setiap lapisan hidup masyarakat. Sosok tersebutlah yang dewasa ini dikenal dalam figure Public relations (PR). Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia tersebut membutuhkan keahlian. Keahlian tersebut merupakan suatu implementasi dari segala wawasannya secara holistik (menyeluruh). Keahlian tersebut harus disesuaikan dengan segala ilmu yang harus diembannya yakni gabuangan dari berbagai ilmu. Gabungan berbagai ilmu dan termasuk dalam jajaran ilmu-ilmu sosial seperti halnya ilmu politik, ekonomi, sejarah, psikologi, sosiologi, komunikasi dan lain-lain, menjadi hal yang mendasar. Jadi intinya seorang PR itu harus mampu menelaah kedalaman dirinya secara professional.

PENGERTIAN[1]

Public relations kerap diartikan dengan kehumasan yakni hubungan antar masyarakat. Pertama,  humas dalam artian sebagai  teknik komunikasi atau technique   of communication dan kedua,  humas sebagai  metode komunikasi atau  method of communication. Konsep Public relations sebenarnya berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui pengetahuan, dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut akan muncul perubahan yang berdampak. Perubahan tersebut karena adanya influence atau pengaruh yang disebarkan dalam diri manusia.

Disamping itu PR adalah usaha yang direncanakan secara terus menerus dengan sengaja, guna membangun dan mempertahankan pengertian timbal balik antara organisasi dan masyarakatnya. Pendapat ini menunjukkan bahwa PR dianggap merupakan suatu proses atau aktivitas yang bertujuan untuk menjalin komunikasi antara organisasi dan pihak luar organsasi. Interaksi dalam komunikasi menciptakan opini publik sehingga dapat menjadi input yang menguntungkan dari kedua belah pihak.

TUJUAN PUBLIC RELATION

Tujuan public relation merupakan memberikan influence atau  pengaruh kepada orang lain secara individu maupun kelompok saat saling berhubungan, melalui dialog dengan semua golongan dimana pemikiran, pandangan penting terhadap suatu kesuksesan suatu perusahaan.

Menurut Rosady Ruslan (2001, p.246) tujuan public relation adalah sebagai berikut:

a. Menumbuhkembangkan citra perusahaan yang positif untuk publik eksternal atau masyarakat dan konsumen.

b. Mendorong tercapainya saling pengertian antara publik sasaran dengan perusahaan.

c. Mengembangkan sinergi fungsi pemasaran dengan public relation.

d. Efektif dalam membangun pengenalan merek dan pengetahuan merek.

e. Mendukung bauran pemasaran.

GAMBARAN PROFESI PUBLIC RELATIONS (http://www.scribd.com/doc/3322948/Public-Relations)

PR merupakan suatu profesi yang menghubungkan antara lembaga atau organisasi dengan publiknya yang ikut menentukan kelangsungan hidup lembaga tersebut. Karena itu PR berfungsi menumbuhkan hubungan baik antara segenap komponen, memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi. PR pada dasarnya menciptakan kerjasama berdasarkan hubungan baik dengan publik. Dalam PR dibedakan dua macam publik yang menjadi sasaran yakni publik internal dan eksternal.

Menurut Dozier (1992) peranan praktisi humas dalam organisasi  merupakan  salah satu kunci penting  untuk  pemahaman akan fungsi public relations dan komunikasi organisasi disamping sebagai sarana pengembangan pencapaian profesionalitas dari praktisi humas.

Secara sederhana tugas praktisi kehumasan adalah menjadi penghubung antara lembaga publik dengan masyarakat luas, agar tercapai saling pengertian, kerjasama dan sinergi yang positif antara berbagai pihak yang ada.  Dalam konteks lembaga lembaga publik seperti pemerintah, sejatinya peran melayani dan mengembangkan dukungan publik guna mencapai tujuan organisasi-lah yang sangat penting dimainkan oleh praktisi kehumasan.

Pada konteks ini, maka praktisi humas harus bisa membentuk nilai-nilai, pemahaman, sikap-sikap, sampai perilaku dari publik agar sejalan dengan kebutuhan organisasi. Melalui pengemasan pesan-pesan komunikasi  publik yang lebih banyak berisikan tentang apa dan siapa serta apa manfaat keberadaan organisasi. Pesan-pesan ini dapat dikomunikasikan melalui mediamassaatau media lain yang dipilih sesuai dengan target sasaran.

KESIMPULAN

Membahas mengenai Kehumasan tidak akan pernah lepas dari komunikasi. Komunikasi yang baik terjadi apabila komunikan dan komunikator dapat saling memberi masukan demi terjalin komunikasi yang baik. Tetapi komunikan berhak menerima atau menolak pembicaraan.  PR harus mampu menunjukkan pembicaran itu hingga dapat terjalin dengan baik. Tujuan yang baik itu diharapkan dapat memberi warna yang sungguh menuntun suatu kesepakatan yang lebih baik.


[1] Abdurrachman, Oemi, 1993, Dasar-dasar Public relations, Bandung: Citra Aditya Bakti, hlm. 10.

 

 

JURNALISTIK DAN PROSPEKNYA

I. JURNALISTIK

  1. Pengantar

Pada umumnya setiap manusia membutuhkan informasi. Informasi tersebut mencakup segala hal. Sudah barang tentu kalau informasi atau berita yang diharapkan itu adalah informasi atu berita yang kredible. Untuk menguji kredibilitas berita tersebut maka akan berkaitan dengan sumber informasi atau berita itu. Pada tataran ini, organisasi dan orang-orang yang berkecimpung dalam organisasi tersebut menjadi sorotan khusus. Orang-orang yang berkecimpung dalam organisasi tersebut dewasa ini disebut dengan wartawan atau Jurnalis.

Dalam wacana ini kelompok akan menitikberatkan pembahasanya pada Jurnalistik dan sekilas membahas mengenai organisasinya. Pada bagian awal wacana ini kelompok akan mencoba membahas mengenai apa dan bagaimana Jurnalistik dan Organisasi itu yang bersumber pada kepustakaan, dan kemudia mencoba mendeskripsikan prospek dalam bidang Jurnalistik tersebut. Semoga bermanfaat.

  1. Pengertian

Dari segi etimologi Jurnalistik terdiri dari dua suku kata, yakni jurnal dan istik. Kata jurnal berasal dari bahas Perancis, journa, artinya catatan harian. Selain itu dalam Bahasa Latin ada sama bunyi ucapanya yakni diurnal yang mengandung arti hari ini.[1] Ada juga istilah jurnalisme, yang merupakan proses mengumpulkan, menyiapkan, dan menyebarkan berita melalui media massa. Kata jurnalisme sendiri awalnya pada abad XX digunakan untuk radio dan televisi. Menurut sejarahnya, hasil jurnalistik yang pertama itu ialah surat edaran bernama Acta Diurma terbit di Roma Kuno, pada tahun 59 SM, terbit tiap hari yang menyajikan peristiwa-peristiwa sosial dan politik.[2]

Berdasarkan pengertian dari segi etimologis tersebut maka jurnalistik dapat diartikan sebagai suatu karya seni dalam hal membuat catatan tentang peristiwa sehari-hari, karya mana yang paling indah yang dapat dinikmati orang banyak sehingga dinikmati dan dimanfaatkan dalam kehidupanya.

Dalam kehidupan sehari-hari pada masa modern ini kita tidak bisa lepas dengan apa yang namanya Jurnalistik dan Organisasi. Menurut Gibson, Ivancevich, Donelly (1992), organisasi adalah kesatuan yang memungkinkan masyarakat mencapai suatu tujuan yang tidak dapat dicapai secara individu. Jika ditelusuri maka akan ada tiga karasteristik dari organisasi yaitu perilaku, struktur, dan proses.[3] Dalam organisasi, perilaku menyangkut soal cara berpikir, bidang interdisipliner, orientasi humanistic, berorientasi pada prestasi, lingkungan eksternal, peranan metode ilmiah, dan orientasi aplikasi.

Sedangkan proses: aktivitas yang memberi nafas kehidupan bagi struktur organisasi. Proses yang umum adalah komunikasi, evaluasi kerja, pengambilan keputusan, sosialisasi dan pengembangan karier. Dalam jurnalistik, ketiga unsur itu juga diterapkan dalam lingkup manajemen percetakan. Berbeda dengan organisasi lain karena organisasi jurnalistik memiliki khas dimana dalam organisasi ini menjual jasa informasi. Maka dari itu segala sesuatu yang terlibat di dalam siniseperti sumberdaya teknologi, modal, dan terlebih sumber daya manusianya sebesar-besarnya ditunjukan untuk memberikan fungsi informasi, mendidik, menghubungkan (sebagai jembatan), menyusun atau membentuk, mengontrol, keniagaan/bisnis, dan mengibur. Pendapat lain, jurnalistik memiliki fungsi informasi, mendidik, menghibur, kritik sosial, dan saluran publik.

  1. Ruang Lingkup Jurnalistik

Ruang lingkup jurnalistik meliputi manajemen redaksional, manajemen bisnis dan manajemen percetakan. Selain itu apabila dilihat dari lokasi beredarnya suatu media massa ruang lingkupnya bisa meliputi lokal, nasional, regional maupun international. Bila ditinjau dari tugas ruang lingkup jurnalistik meliputi bidang sosial, hukum, kriminal, pendidikan, kesehatan, olah raga, hobby, ekonomi, sosial kemasyarakatan dan sebagainya. Dalam manajemen redaksional terdiri dari orang yang mempunyai jenjang dan tanggung jawab serta tugas yang berbeda dari mulai yang paling rendah, sampai yang paling tinggi.

Dalam jurnalistik untuk mencapai suatu tujuan memerlukan prinsip yang mendasari jurnalistik :

  1. Kecepatan dimakasudkan yaitu informasi dapat segera diterima oleh wartawan dan cepat disebarluaskan melalui media.
  2. Ketepatan maksudnya ialah ketepatan suatu medai dalam menyajikan berita akan menarik orang untuk membaca media massa. Ketepatan penyajian kita dapat dipengaruhi oleh kerjasama antara manajemen redaksional, manajemen bisnis, dan manajemen percetakan.
  3. Kompetensi merupakan kemampuan seorang individu dalam menjalankan tugasnya, kemampuan tersebut juga dipengaruhi olrh latar belakang pendidikan dan pengalamannya. Dalam dunia jurnalistik seseorang perlu memiliki berbagai latar belakang didiplin ilmu, separti sosial, ekonomi, politik, hukum dan lainnya.
  4. Penekanan diartikan sebagai masalah pokok yang ingin diuraikan dalam suatu berita di medaia massa.
  5. Loyalitas merupakan kesetiaan anggota-anggota redaksi didalam suatu media massa, kepada lembaga atau organisasi media dimana dia bekerja, hal tersebut akan mempengaruhi dalam peliputan suatu berita dan penyajiannnya.
  6. Kelayakan kelayakan menyangkut informasi yang diterima redaksi apakah informasi tersebut layak untuk disajikan atau dimuat didalam suatu berita, didalam media massa.
  7. Prioritas sangat diperlukan dalam pencapaian suatu tujuan. Dimana sering kali suatu perusahaan penerbiatan pers memiliki peralatan cetak sendiri, dan disamping itu selain untuk mencetak media massa terkadang mereka juga untuk usaha lainnya. Pada situasi ini ketika kesamaan waktu terjadi perlu adanya prioritas yaitu mendahulukan mencetak media massa sebagai tujuan utama perusahan tersebut.
  1. Fungsi Jurnalistik

Jurnalis dalam melakukan kegiatannya mempunyai kedudukan atau tugas. Kedudukan atau tugas tersebut cukup sensitif, karena akan memberikan sikap edukatif persuasif bagi yang membaca hasil karya jurnalis tesebut. Karena sensitifitas tersebut, mereka yang berkecimpung dalam industri jurnalistik tersebut memiliki paham akan essensialitas kedudukan atau tugas mereka. Setiap berita mereka yang disebarluaskan tersebut akan mempengaruhi orang yang membacanya. Beberapa fungsi atau tugas jurnalis tersebut yakni:

  1. Mencerdaskan Masyarakat

Melalui kegiatan jurnalistik, dapat menyebarkan informasi yang merupakan buah pemikiran seseorang. Buah pikiran tersebut selanjutnya dapat diterima dan dikonsumsi oleh orang lain.

  1. Menegakkan keadilan

Seorang jurnalis akan menyampikan informasi dengan benar dan jujur. Suara kebenaran yang diwujudkan dalam bentuk tulisan akan memepengaruhi massa. Sehingga orang akan dapat menilai situasi kehidupan yang baik yang bersifat adil maupun yang tidak adil.

  1. Menyampaikan Masalah Publik

Masalah publik sering tidak dianggap oleh masyarakat luas. Kegiatan menulis dalam jurnalistik dapat menjadi sarana untuk penyampaian informasi tetang permasalah yang terjadi di masyarakat. Sehingga permasalahan masyarakat tersebut dapat diketahui oleh masyarakat luas.

  1. Hiburan

Kegiatan yang ditampilkan melalui kegiatan jurnalistik bermacam-macam dapat berupa tulisan ataupun gambar. Dengan demikian semuanya dapat memberikan hiburan bagi setiap orang yang mengkonsumsinya sesuai dengan selera.

  1. Kontrol Sosial

Dalam kehidupan sosial sering terjadi penyimpangan, melalui kegiatan jurnalistik tulisan-tulisan dapat mengkritik  penyimpangan yang terjadi. Dengan demikian masyarakat akan terpengaruh dan berani untuk melurusakan penyimpangan yang terjadi.

II. FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK, UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA (Buku Pedoman T.A. 2011/2012; FISIP UAJY)

Informasi terkini kerap menjadi suatu kebutuhan yang tidak mungkin terlepas dari hakekat manusia. Kebutuhan tersebut menuntut para jurnalis harus memiliki pemahaman yang baik akan segala hal yang harus dimiliki dalam menjalankan aktivitasnya dalam dunia jurnalistik. Teori jurnalistik tersebut dapat dipelajari dan dipahami dalam bangku perkuliahan dan kursus lainnya yang kongheren. Dewasa ini justru banyak universitas-universitas di dalam maupun luar negeri yang membuka fakultas dengan program studi komunikasi yang menitikberatkan konsentrasinya dalam dunia jurnalistik.

Tjipta Lesmana pakar komunikasi Indonesia menjelaskan bahwa betapa pentingnya komunikasi di pelajari. Sebab setiap tindakan (behaviour) merupakan pengungkapan identitas diri seseorang. Ilmu komunikasi tersebut – demikian nama untuk mata kuliah ini diberikan- meliputi banyak aspek salah satunya ialah Jurnalistik tersebut. Sebab jurnalistik mengacu pada banyak aspek, bukan hanya sebatas berinteraksi satu sama lain tetapi juga memberikan informasi kepada orang baik secara langsung maupun lewat media cetak atau elektronik.

Atas alasan dan kebutuhan yang sedemikian tersebut membuat Univesitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) pa bulan Juli 1991 dengan surat keputusan Mendikbud RI, maka terdaftarlah Jurusan Ilmu komunikasi dengan surat keputusan DIKTI pada tahun 1994. Seiring dengan perkembangan teknologi, maka Fakultas ini, termasuk program studi di dalamya mencoba senantiasa melakukan pembaharuan dari segala sisi. Program studi komunikasi dan Sosiologi tersebut masuk dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Dalam prodi tersebut ada beberapa konsentrasi studi pada masing-masing. Terkhusus dalam prodi Ilmu Komunikasi memiliki empat konsentrasi/ focus studi yakni Kajian Media, Komunikasi Pemasaran dan Periklanan, Hubungan Masyarakat dan Jurnalisme. Pada umumnya untuk memilih konsentrasi studi ditentukan oleh mahasiswa bersangkutan pada saat memasuki semester III perkuliahannya.

Dalam konsentrasi studi tersebut masing-masing memliki persamaan dan perbedaan dalam mata kuliah yang disajikan. Berikut kelompok memaparkan matakuliah apa saja yang wajib dihadapi seorang mahasiswa FISIP UAJY yang memilih konsentrasi studinya dengan Jurnalisme. Berikut kelompok akan mencoba untuk menyajikan mata kuliah- mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa yang berkecimpung dalam konsentrasi Jurnalisme.

Konsentrasi studi Jurnalistik

MK

Kurikulum Inti- Utama (wajib)

Kurikulum Institusional

Jmlh

Pendukung (w+p)

Lainnya (p)

SKS

MPK Wajib (6 SKS)

Pendidikan Pancasila (2)

Pendidikan Kewarganegaraan (2)

Pendidikan agama (2)

6

MKK Wajib (43 SKS)

Pengantar Sosiologi (3)

Pengantar Ilmu Politik (3)

Pengantar Antropologi (3)

Filsafat Sains dan Teknologi (3)

Pengantar Ilmu Hukum (3)

Pengantar Ilmu Ekonomi (3)

Metode Penelitian Sosial (3)

Pengantar Ilmu Komunikasi (3)

Teori Komunikasi (4)

Etika Filsafat Komunikasi (3)

Psikologi Komunikasi (3)

Komunikasi Lintas Budaya (3)

Komunikasi Massa (3)

Komunikasi Persuasif (3)

Wajib (9 SKS)

Dasar- dasar Jurnalisme (3)

Jurnalistik media penyiaran (3)

Jurnalistik media cetak (3)

Disediakan khusus bagi yang mengambil Minor Jurnalisme

Minor : 9

Major : 0

52-61

Dari penyebaran mata kuliah tersebut, ada beberapa mata kuliah yang menjadi pendukung dalam konsentrasi Jurnalistik ini yakni  Dasar- dasar Jurnalisme, mempunyai beban sebesar 3 SKS. Mata kuliah Dasar- dasar Jurnalistik tersebut merupakan Matakuliah Keilmuan dan Keahlian (MKK), dimana sebagai Matakuliah elementer (pengantar) merupakan rumpun utama dalam kuliah konsentrasi jurnalistik dan humas. Dari mata kuliah tersebut diharapkan mahasiswa mampu memahami garis-garis besar proses jurnalistik dan seluk belk yang berkaitan dengannya, baik analisis, etis dan praktis secara khusus diangkat sebgai tema perkuliahan. Selain itu konsep dasar jurnalistik sebgai proses, hubungan sistematik pers dengan lingkungannya, obyektivitas sebgai kisi-kisi etis kerja jurnalistik, jenis berita dan sebagainya.

Mata kuliah yang kedua sebagai pendukung wajib dalam konsentrasi jurnalistik ialah Jurnalistik media penyiaran (3 SKS), juga merupakan MKK. Matakuliah ini merupakan matakuliah tingkat lanjut, diharapkan mahasiswa jurnaistik mampun mengembangkan analisis etis untuk memahami kekhasan jurnalisme media penyiaran abik tingkat produksi, konsumsi maupun kisi-kisi etik maupun dinamika baik dalam tingkat local maupun global. Tema yang ditawarkan dalam perkuliahan ini meliputi perkembangan aliran jurnalisme, media penyiaran, kisi-kisi etik dan konsep berita atau informasi yang dikembangkan.

Matakuliah pendudkung ketiga yakni Jurnalistik media cetak (3SKS) masih dikateorikan sebagai MKK. Seperti dua matakuliah sebelumnya matakuliah ini pun memiliki tujuan yang tidak jauh berbeda. Hanya saja pada konsentrsi awalnya bagi percetakan atau penyiaran (elekronik). Selain ketiga matakuliah tersebut, matakuliah lain pun turut mengambil andil dalam mencapai terwujudnya seorang jurnalis yang berkompeten dalam bidangnya, memiliki tanggung jawab dan kredibilitas serta integritas yang tinggi dalam menjalankan tugasnya. Demikian juga harapan UAJY berharap mahasiswanya dapat memiliki jiwa yang unggul.

III. PROSPEK JURNALISTIK

Dalam menempuh perjalanan pendidikan kerap kita akan memiliki bayangan untuk masa depan. Sudah barang tentu kalau bayangan yang diinginkan pasti untuk mengharapkan suatu keberhasilan atau kesuksesan yang memberi income yang maksimal. Demikian juga bagi kalangan yang berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Tentu bayangan tersebut hanya dapat terealisasi jika dibarengi dengan usaha kerja keras sehingga dapat menjadi suatu kemampuan yang lebih. Berikut kelompok akan mencoba memaparkan beberapa hal yang cukup urgent dimiliki bagi para jurnalis.

  1. Tuntutan kompetensi[4]

Dewasa ini media berkembang dengan pesat, kemajuan teknologi membuat informasi dapat berkomunikasi dengan semua orang dengan cepat dan mudah. Hal tersebut juga menjadi gambaran manusia yang berkomunikasi dan berinteraksi dengan cara hidupnya (modus vivendi). Pada jaman dahulu orang berkomunikasi dengan tatp muka, namun sekarang dapat dilakukan melalui media. Media menjadi pilihan  utama yang menggantikan panggung, mimbar , serta tempat yang sangat dibatasi oleh ruang dan waktu. Seiring perkembangan IPTEK, media maya juga menjadi pilihan saluran komunikasi meskipun banyak yang memperdebatkan  media maya mengandung komprehensi satra dan jurnalistik, media maya pun bersilang dengan jurnalistik dan sastra.

  1. Pendidikan Jurnalistik di Perguruan Tinggi

Tugas dan panggilan perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang siap kerja, kompetitif, berbudi pekerti luhur, menjujung nilai, dan senantiasa meng-up date diri menjadi knowledge, kurikulum pun harus didesain  sehingga mampu membekali calon jurnalis dengan hard skill dan soft skill, namun juga kurikulum yang bersepadan serta berhuungan dengan dunia industri, menjawab kebutuhan masyarakat dan segala hal yang terkait. Pengujian dilakukan melalui seminar dan workshop dengan melibatkan praktisi serta pakar terkait sembari menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu dan teori serta memetik pengalaman terbaik (best practice) perguruan tinggi didalam dan diluar negeri yang sudah terbukti secara historis faktual melahirkan jurnalis andal dalam bidangnya.

Materi buku ajar  disusun berdasarkan rambu-rambu dan substansi materi kurikulum pendidikan jurnalistik di perguruan tinggi pada tataran internasional yang memperhatikan  konteks sosial budaya masyarakat Indonesia dan kebutuhan dunia industri kreatif dan industri media. Yang penting disini, substansi materi logic smart (clear thinking) juga dimasukan dalam prasyarat kejelasan tulisan (clear writting). Maksudnya tulisan yang sempurna adalah penggabungan  antara keterampilan menulis dan cerdas logika.

Seperti yang ditetapkan Kepmendiknas RI No.045/U/2002 mahasiswa jurusan jurnalistik di perguruan tinggi dituntut untuk :

  1. Membaca dan mengemulasi bacaan (terutama satra) bermutu
  2. Mempelajari dan mendalami ilmu ilmu terkait,
  3. Memahami elemen elemen dan kaidah  satra serta terampil menerapkan dalam tulisan,
  4. Dapat menerapkan pengetahuan teknik penulisan  ke dalam praktik,
  5. Berlatih menulis berbagai ragam tulisan non fiksi kreatif,
  6. Memahami dan menguasai proses dan cara kerja dunia  jurnalistik.

IV. KESIMPULAN

Informasi atau berita yang disampaikan oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia jurnalistik harus disadari memiliki andil yang kuat dalam menentukan kondisi atau kestabilan suatu bangsa atau Negara. Karena alasan tersebut maka dapat disampaikan bahwa jurnalistik bukan sekedar peliput dan penyampai berita. Tetapi juga turut dalam menentukan atau membentuk karakter atau persepsi individu atau kelompok.

Persaingan untuk meraih kedudukan dalam dunia jurnalistik pun sudah menjadi kompetitif. Karena realita kelulusan mahasiswa yang bekecimpung dalam jurnalistik dan jurusan lain pun mungkin untuk masuk dalam bagian tersebut. Persaingan ini menuntut para mahasiswanya untuk berani dalam menentukan sikap agar dapat menjadi jurnalis yang mampu untuk berkompetitif, berdedikasi, humanis, dan mampu untuk melayani dalam terang.


[1] Kustadi Suhandang, 2004, Pengantar Jurnalistik; Seputar Organisasi, Produk dan Kode Etik, Penerbit Nuansa, Bandung, hlm. 13-15.

[2] Z. Bambang D, dkk. 2006.  Mahir berjurnalistik . Penerbit Amara Books, Yogyakarta, hlm. 10.

[3] Z. Bambang D, dkk. 2006.  Mahir…, hlm. 10- 11.

[4] Masri Sareb Putra. 2010. Literary Journalism; Jurnalistik Sastrawi, Penerbit Salemba Humanika. Jakarta.

 

 

KONSENTRASI STUDI ADVERTISING /

PERIKLANAN

PENGERTIAN[1]

Periklanan merupakan sebuah bentuk komunikasi yang berfungsi untuk membujuk audiens (pemirsa, Pembaca, atau pendengar) untuk mengambil beberapa tindakan sehubungan dengan produk, idea tau jasa. Iklan yang ditampilkan tersebut pada umumya adalah untuk mengarahkan perilaku konsumen sehubungan dengan suatu penawaran komersial, kendatipun iklan politik atau ideology juga umum. Periklanan dapat kita temuan baik dalam media cetak maupun media elektronik. Tujuan dari hal tersebut tidak lain dan tidak bukan hanya lah untuk mensuggest orang untuk memahami bahasa tersebut.

Periklanan erat hubunganya dengan komersialitas, karena keinginan untuk mendapat peningkatan konsumsi dari produk barang atau jasa yang diiklankan melalui “Branding” yang memperlihatkan gambar atau ilustrasi dari produk tersebut. Hal tersebut mengharapkan suatu upaya mengasosiasikan kualitas tertentu dengan merek di pikiran para konsumen. Kendati pun demikian ada juga iklan yang bersifar non komersial. Karena suatu iklan dibuat untuk memberikan pemahaman bahwa yang diiklankan erat hubungannya dengan kepentingan politik atau golongan, lembaga atau instansi tertentu baik pemerintahan maupun swasta.

SEJARAH ADVERTISING

Mengenai sejarah iklan tersebut dapat dijelaskan bahwa Mesir menggunakan papirus untuk membuat pesan penjualan dan poster-poster. Selain itu pesan komersial dan menampilkan kampanye politik telah ditemukan di reruntuhan Pompeii dan kuno Saudi. Penemuan iklan pada papirus itu terdapat di Yunani Kuno dan Romawi Kuno . Lukisan dinding atau batu untuk iklan komersial merupakan manifestasi dari bentuk iklan kuno, yang hadir sampai hari ini di banyak bagian Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Tradisi lukisan dinding dapat ditelusuri kembali ke India Seni Cadas lukisan yang tanggal kembali ke 4000 SM. Seperti kota-kota pada abad pertengahan mulai tumbuh, dan masyarakat umum tidak mampu membaca. Hal tersebut dominan bagi tukang sepatu, miller, penjahit atau pandai besi. Menanggapi hal tersebut mereka menggunakan sebuah gambar yang terkait dengan perdagangan mereka seperti boot, setelan jas, topi, jam, berlian, sepatu kuda, sebuah lilin atau bahkan kantong terigu.[2]

ADVERTISING DI FISIP UAJY

Program Studi komunikasi, Univeritas Atma Jaya Yogyakarta membuka empat program untuk konsentrasi studi, salah satunya ialah mengenai advertising atau periklanan. Konsentrasi ini disebut dengan Komunikasi Pemasaran dan Periklanan jadi harus dipahami bahwa dalam FISIP UAJY dipelajari adalah ilmu komunikasinya bukan grafisnya kendati pun hal tersebut dapat mengacu. Berkenaan dengan pemahaman ini dapat member kesalahan arti dalam memahaminya.

Konsentrasi memang membahas komunikasinya, hal tersebut terkatub dalam mata kuliah pendukung yang ditawarkan seperti Komunikasi Pemasaran, Periklanan dan Management Periklanan. Dari ketiga hal tersebut dapat dimengerti bahwa matakuliah yang ditawarkan memang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang komunikasi pemasaran terpadu dan memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk dapat merencanakan komunikasi pemasan yang terpadu[3]

KESIMPULAN

                Dalam menjalani kehidupan memilih adalah suatu hal yang mau tidak mau harus ditentukan. Segala konsekuensi atas pilihan tersebut menjadi gambaran akan kesiapan kita dalam member respon atas pilihan tersebut. Demikian halnya dengan program studi di FISIP UAJY, pilihan yang diberikan bukan untuk menjadikan sekat bagi mahasiswa tetapi memberikan suatu konsentrasi atau titik fokus bagi mahasiswa agar mampu memberikan respon yang baik atas “kelompok” yang dipilih kelak.

Prospek advertising juga menjadi urent dewasa ini. Hal tersebut dipengaruhi oleh pola piker masyarkat yang mengutamakan keindahan gambar maupun illustrasi yang disampaikan  dalam suatu iklan.


[1] http//en.wikipedia.org/wiki/Advertising, diaskes tanggal 21 Nopember 2011, Pukul 13.43 WIB.

[2] http//en.wikipedia.org/wiki/Advertising, diaskes tanggal 21 Nopember 2011, Pukul 13.43 WIB.

[3] Buku Pedoman T.A. 2011/2012; FISIP UAJY hlm. 43.

 

KONSENTRASI STUDI KAJIAN MEDIA

PENGANTAR

Belajar dari pengalaman karena pengalaman adalah guru yang terbaik. Kalimat tersebut tersebut saya beranikan untuk mengawali tulisan ini. Hal tersebut berani saya katakana karena memang sumber untuk membahas konsentrasi ini cukup sulit, terlebih jika merujuk pada sumber pustaka. Kendati pun demikian sebagai mahasiswa tidak dapat putus asa tetap berjuang mencari dan menemukan ide kreatif mengenai sesuatu yang harus dihadapi. Sebelumya harus penulis sadari bahwa tulisan ini masih jauh dari hal-hal sempurna termasuk mengenai reksa keilmiahannya. Tetapi yang jelas tulisan ini merupakan hasil garapan penulis sendiri tanpa ada rekayasa. Tulisan ini akan lebih berwarna deskriptif yang ada pada sumber dan ditambah dari hasil pemikiran penulis.

 

PENGERTIAN

Secara harafiah dapat diartikan kajian media terdiri dari dua kata, yakni kajian dan media. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kajian dengan kata dasar kaji yang berarti pelajaran atau penyelidikan; sementara kajian berarti hasil dari mengkaji tersebut, sementara ini media berarti alat atau sarana komunikasi. Dari pemaparan tersebut dapat diartikan bahwa kajian media merupakan suatu usaha dalam memberi pemikiran atau pandangan entah dari perspektif berbeda terhadap sesuatu yang pemberitaan atau dari informasi yang disampaikan kepada khalayak ramai.

Kajian media dalam progressnya lebih menekankan suatu sikap memberikan pandangan. Pandangan yang ditimbulkan bukan untuk menjatuhkan melainkan untuk memverivikasi atau memfalsifikasi suatu karya. Pandangan yang dikaji tersebut dapat sejalan dan dapat juga berbeda terhadap realita yang ada sehingga membutuhkan suatu pembenaran.

 

Kajian Media FISIP- UAJY[1]

Menyadari bahwa peranan media yang cukup penting dalam memberi informasi kepada publik. Informasi yang dicantumkan dalam media entah itu media cetak atau elektronik pasti membutuhkan pengawasan yang cukup. Karena tanpa adanya pengawasan informasi yang disampikan dapat saja menjadi “pembunuh” karakter dengan memberi pengaruh negatif terhadap masyarakat. Menyadari hal tersebut dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prodi Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, memberikan ruang untuk siapa saja yang ingin mengemban tugas tersebut dengan konsentrasi Kajian Media dalam Prodi Komunikasi.

Kurrikulum Institusional di Atma Jaya Yogyakarta, memberikan penekanan yang sungguh baik. Hal tersebut dapat tampak dari matakuliah- matakuliah yang ditawarkan. Beberapa matakuliah institusional pendukung ialah Kajian Kultural Komunikasi, Ekonomi Politik Komunikasi,  Perkembanga Media, Teknologi Komunikasi Informasi, Media Massa Indonesia, Analisis Wacana, Pedagogi Media, Komunikasi Dan Lingkungan, Resolusi Konflik dan masih banyak matakuliah lain yang ditawarkan dalam konsentrasi ini. Salah satu matakuliah tersebut yakni Kajian Kultural Komunikasi dimana didalam matakuliah ini secara khusus mengkaji tentang interelasi antar identitas, regulasi, representasi, konsumsi dan produksi yang bekerja dalam penyampaian pesan-pesan komunikasi.

Pandangan terhadap Kajian Media

Pemahaman tentang kajian media hendaknya harus dimengerti betul. Mencoba memikirkan tentang kajian media pasti akan mengarah pada suatu sikap kritis. Memang demikian adanya bahwa untuk mencari kebenaran suatu informasi harus dapat membuktikan suatu tindakan yang betul-betul dapat dipertanggung jawabakn dan dapat logis serta sesuai dengan segala relaitas yang ada. Pemikiran yang benar turut mempengaruhi tindakan kita yang jujur dan penuh keikhlasan.

Kerap ada opini publik yang pernah saya dengar di kampus, bahwa orang- orang yang berkecimpung dalam Public Relation atau kehumasan kerap bertolak belakang dengan dunia jurnalistik, terlebih kajian media. Padahal setelah mencoba memahami semua ternyata Kajian Media bukan penentu tentang kebenaran atau kesalahan suatu informasi. Tetapi akan merujuk pada situasi yang menyertainya, sebab sesuatu dikatakan benar. Seperti yang sebelumya saya sampaikan bahwa kajian media dapat diartikan sebagai pengawas informasi yang beredar dalam publik kehingga betul-betul bahwa itu semua sebagai sarana mendapat informasi yang lebih akurat, kredibel dan logis.


[1] Buku Pedoman T.A. 2011/2012; FISIP UAJY hlm. 30-31, 40-43.

FILSAFAT SINS DAN TEKNOLOGI

Pendahuluan

Berbicara tentang keilmuan dan perkembanganya kerap dapat dikaitkan ke dalam dua pertimbangan. Objektivitas yang merujuk pada kebenaran dan Nilai-nilai kemanusiaan yang mengacu pada latar belakag dan tujuan kegiatan keilmuan tersebut.

Hubuangan Nilai Dengan Nilai-Nilai Hidup

Petimbangan nilai cukuplah penting sehingga pandangan para ilmuwan dapat dibedakan menjadi dua bagian, yakni :

  1. Para ilmuan yang hanya menggunakan satu pertimbangan yakni nilai kebenaran. Pada ranah ini ilmuwan berpandangan bahwa ilmu itu harus bebas nilai. Hal-hal lain harus dikesampingkan seperti metafisika, nilai etik, moral hingga bermuara pada kesimpulan  bahwa ilmu harus bebas. Beberapa pandangan para ilmuwan yang menganut aliran ini yakni:
  • Jacob Bronowski, berpendapt bahwa tujuan ilmu ialah mencari sesuatu yang benar tentang dunia. Asktivitas ilmu terarah untuk meliah suatu kebenaran.
  • Victor Reisskop, berpendapat bahwa ilmu bukan penerapan, tujuan ilmu semata mencari kaidah-kaidah tentang prose ilmiah.
  • Carl G. Hempel dan Paul Oppenheim, berpendapat bahwa ilmu tidah hanya bermuara pada suatu pelukisan mengenai pokok soalnya dengan menyajikan suatu penjelasan mengenai fenomena yang dikaji.
  • Maurice Richter, berpendapat bahwa ilmu dewasa ini bertajuk generalisasi, disistematisasi mengenai dunia alam; pengetahuan membantu manusia untuk memahami alam.

Para ilmuwan mesti memahami bahwa segala tujuan dan harapan dalam memahami pengetahuan harus tetap mencerminkan ciri-ciri pokoknya yaitu bersifat empirik. Sehingga peluang untuk memasukkan nilai-nilai diluar nilai kebenaran dalam kegiatan ilmiah memang tidak dimungkinkan.

  1. Para ilmuwan yang memandang sangat perlu dimasukkan pandangan-pandangan etik, kesusilaan dan kegunaan untuk melengkapi pertimbangan nilai kebenaran, yang akhirnya sampai pada prinsip bahwa ilmu pengetahuan harus bergantung pada nilai. Bebrapa pandangan para Ilmuwan yang menganut aliran ini:
  • Francis Bacon, berpendapat bahwa ilmu pengetahuan ialah kekuasaaan, mengenai tujuan yang sah ilmu ialah memberikan sumbangan terhadap hidup manusia.
  • Daoed Yoesoef, berpendapat bahwa ilmu merupakan suatu kebanran tersendiri, namun tidak dapat diartikan bahwa bahwa ilmu pengetahuan itu bebas dari nilai.
  • Soeroso H. Prawirohardjo
  • CA van Peursen

Dari setiap ilmuwan dapat diperoleh kejelasan bahwa hanya dengan menjaga jarak antar ilmu dan ideology, maka pertimbangan etik bagi ilmu pengetahuan menjadi mungkin dilaksanakan yaitu demi kepentingan masyarakat. Namun dalam bidang tertentu seperti budaya atau politik ilmu dapat berubah, dan perubahan itu ada batasannya yakni pada saat mana bebas nilai dan saat bagaimana taut nilai.

Pengembangan ilmu pengetahuan ternyata memerlukan dua pertimbangan yaitu, pertimbangan dari segi yang statik yang menjadi ciri sistem yang tercermin dalam metode ilmiah (Soejono Soemarjono) dan segi ilmu dinamik menjadi pedoman  atau asas-asas yang perlu diperhatikan ilmuan.

Jujun  Suriasumantri berpendapat, bahwa semua pengetahuan memiliki tiga landasan yakni:

  1. Ontologi yang merupakan suatu kajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontology dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu, dan berdasarkan obyek penelaahan tersebut ilmu dapat juga disebut sebagai pengetahuan empiris. Sebab obyek berada pada jangkauan manusia itu sendiri.
  2. Epistemologi, suatu teori pengetetahuan yang membahasa tentang segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan secara mendalam. Pengetahuan tersebut pun di peroleh melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Syarat keilmuan itu sendiri ialah bersifat terbuka dan menjunjung kebenaran di atas segala-galanya. (Jujun S.S., 1991, hlm.9)
  3. Dasar Aksiologis, merupakan ilmu yang membahasa tentang manfaat yang didapat manusia dari ilmu pengetahuan tersebut. Ilmu membantu manusia untuk mendapat kemudahan dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan alam.

Ketika kita menyelami ketiga poin tadi, tampak bahwa masalah yang ada terletak pada ilmu itu sendiri. Pada hakekatnya ilmu bersifat netral, terlepas dari penilaian baik atau buruknya suatu ilmu. Netralisasi tersebut hanya terletak pada dasar epistemologisnya saja. Namun dalam epistemologi dan aksiologis, ilmuwan harus memiliki penilaian antara baik dan buruknya sesuatu. Dari sebab itu ilmuwan harus memiliki moral yang kuat, agar tidak menjadi musuh bagi kemanusiaan.

Dilihat dari landasan ontology, ilmu akan berbeda dengan bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. Sebab ilmu mempelajari problem atau masalah hidup yang dihadapi sehari-hari sehingga masalah itu nyata.

Ilmu pun berasal dari kesangsian atau ragu-raguan bukan dimulai dari suatu kepastian sehingga berbeda dengan agama yang dimulai dengan kepastian obyek yang ada dalam jangakuan pengalaman hidup manusia. Ilmu secara lebih mendalam mempelajari kenyataan sebgaimana adanya dan terbatas pada lingkup pengalaman manusia. Hal tersebut diungkapkan olh beberapa ahli seperti yang dikemukakan olh The Liang Gie:

  • Robert Lindsay yang melihat ilmu merupakan suatu metode untuk penggambaran, penciptaan, dan pemahaman terhadap pengalaman manusia.
  • Bliss lebih menekankan bahwa ilmu tidak lepas dari data-data empirik. Baginya ilmu adalah sesuatu yang teruji, terproses,…, dan hubungan perceptual menjadi generalisasi…. .

Seperti yang diungkapkan Bliss rasanya persoalan di luar pengalaman manusia bukan merupakan wilayah telaah ilmu, sebab ilmu adalah penjelasan yang rasional dan sesuai dengan obyek yang dijelaskan. Ilmu pengetahuan merupakan usaha manusia untuk memahami kenyataan sejauh dapat dijangaku daya piker manusia berdasar pengalaman empirik. Jadi pra pengetahuan dan pasca pengetahuan bukan telaah ilmu melainkan telaah ontology. Jadi ontology ilmu adalah  ciri-ciri essensial dari obyek ilmu yang berlaku umum, artinya dapat berlaku juga bagi cabang-cabang ilmu yang lain.

Selemtara landasan epistemology dari ilmu pengetahuan adalah analisis tentang proses tersusunnya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan disusun melalui proses yang disebut metode ilmiah. Dan landasan aksiologis dari ilmu pengetahuan adalah analisis tentang penerapan hasil-hasil temuan ilmu pengetahuan, dan ilmu tersebut berfungsi semata untuk membantu kebutuhan-kebutuhan sehingga tercapai keluhuran manusia itu sendiri.

PSIKOLOGI KOMUNIKASI

KOMUNIKASI   DAN  ETIKA

 

Pengantar

Dewasa ini perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin dahsyat. Tanpa disadari banyak orang yang terseret arus globalisasi dan modernisasi tersebut. Kemampuan untuk memilah atau selektif terhadap harus teknologi menjadi tantangan kehidupan manusia. Tak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut terlaksana bukan segampang membalikkan telapak tangan. Kerja keras, membangun minat yang tangguh menjadi modal utama dalam merealisasikan hal tersebut. Pembekalan dalam diri setiap manusia untuk memiliki sikap-sikap moralitas maupun etika menjadi hal yang serius.

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia dalam kehidupan sosialnya harus melakukan interaksi dengan orang lain. Interaksi tersebut dapat berupa komunikasi (berbicara/ verbal) atau tindakan (isyarat/ non verbal). Setiap perkataan dan setiap tindakan pasti akan memiliki sebab dan tujuan tertentu. Seseorang yang mempunyai ide tetapi tidak mengungkapkannya dengan komunikasi, ide itu tetap akan sebagai ide. Ide tersebut berdiam pada kediriannya sendiri. Ide yang diungkapkan dengan komunikasi merupakan salah satu jalan menuju kesepemahaman antar pribadi.

Ide atau sudut pandang manusia itu kerap disebut sebagai persepsi. Pesepsi dapat diterjemahkan sebagai suatu rangkaian pemikiran terhadap sesuatu. Manusia otonom atau bebas dalam mempersepsikan sesuatu. Kebebasan mempersepsikan inilah yang menjadikan manusia harus saling terbuka dan saling memahami dalam berkomunikasi. Komunikasi akan berjalan efektif apabila prsepektif interpersonal (antarpribadi) dapat berjalan dengan baik. Persepsi yang berbeda satu pribadi dengan pribadi yang lain dalam berkomunikasi dapat mengakibatkan miscommunication.

Dalam wacana sederhana ini, saya tidak akan menjelaskan apa itu perkembangan teknologi atau penjabaran tentang urgenisitas persepsi dalam komunikasi. Namun tendensi yang ingin saya ajukan agar ada kongherenisitas (ke-saling terkait-an) dengan mata kuliah Psikologi Komunikasi maka saya berinisiatif untuk menjabarkan komunikasi dari perspektif etika dan komunikasi itu sendiri. Pada bagian awal saya akan mencoba untuk menyematkan pengertian dari  kedua element, sebut sajalah demikian sebatas konteks tulisan ini, yang menjadi sorotan saya yakni Etika dan Komunikasi. Bersebelahan dengan kedua element tersebut saya akan mencoba memberika pendapat pribadi dari pengertian menurut sumber saya, dari pertalian hubungan kedua element tersebut.

Pengertian

Pada tatanan ini, saya akan  mencoba masuk dalam pemahaman akan arti kedua element tersebut yakni,  etika (ethics) yakni merupakan suatu tipe pembuatan keputusan yang bersifat moral, dan menentukan benar dan salahnya dipengaruhi oleh peraturan dan hukum yang ada dalam masyarakat (Richard West; Introducing Communication Theory, p. 17 ).  Etika merupakan suatu kajian yang essensial dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya kesadaran akan etika dalam diri manusia akan membuat manusia “liar” dan sulit memahami dirinya. Sebab kehidupan manusia yang bersifat social ini, menuntut manusia dan sesamanya harus saling mau untuk memberi dan menerima.

Mengapa penting akan Etika ini? Sesungguhnya etika ini merupakan suatu kajian ilmu yang mampu melampaui segala cara kehidupan termasuk melampaui gender, ras, kelas sosial, identitas seksual dan agama atau kepercayaan. Dengan kata lain kita tidak bisa menghindari prinsip-prinsip etis dalam kehidupan kita. Perkembangan moral ini juga merupakan bagian dari pengembangan umat manusia, dan sering dengan bertambahnya usia kita, kode moral kita juga mengalami perubahan menuju kedewasaan.

Etika bukan sesuatu hal yang tabu atau sesuatu yang membuat kita terikat dengan aturan ke-etika-an tersebut. Seyogyanya bahwa etika itu harus menjadi jembatan untuk saling menghormati sesama yang berada dalam pluralistik. Dengan kata etika bagiku hal yang terbersit ialah kejujuran, toleransi, saling menghormati dan tentunya saling menghargai. Poin-poin ini juga menjadi penting dalam kita menempatkan diri sebagai suatu integritas yang menjunjung tinggi pemahaman dalam kebersatuan. Etika menuntut semua orang agar berjalan dalam koridor kebersamaan. Karena memang demikianlah tabiat manusia itu sendiri.

Kemudian apa itu Komunikasi? Tidak dapat dipungkiri setiap mahkluk hidup pasti akan melakukan kegiatan ini, tanpa terkecuali. Hal ini terealisasi tergantung pada mahkluk tersebut bagaimana ia memaknai hal ini. Komunikasi secara etimologis berasal dari Bahasa Latin, yakni Communicare atau Communication yang padanan kata dalam Bahasa Indonesianya ialah membuat sama. Apa yang sama? Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa hewan pun sebagai mahkluk mampu berkomunikasi dengan caranya sendiri dengan insting. Dengan komunikasi itu disarankan agar sesuatu yang sama makna dipahami secara bersama pula. Pada intinya tidak ada definisi yang benar atau salah dalam menjabarkan komunikasi, namun utamanya adalah dilihat kemanfaatannya. Bahwa dengan berkomunikasi kita dapat saling mengerti, saling memahami dan saling membuka diri untuk memahami kaidah- kaidah yang ada.

Pada tulisan ini kembali kita membatasi diri dalam lingkup komunikasi dalam konteks manusia. Ada dua batasan yang menjadi prilaku manusia, pertama prilaku yang tidak disengaja (Simtom) dan kedua ialah prilaku yang disengaja (verbal dan/atau non verbal). Setiap tindakan baik Simtom maupun verbal dan/atau nonverbal dapat menjadi suatu komunikasi tatkala ada orang yang merespon atau memaknai, tetapi kalau tidak ada yang merespon maka prilaku tersebut bukan suatu komunikasi karena tidak ada merespon. Dalam pemaparan ini jelas bahwa komunikasi akan berjalan apabila terjadi pada dua arah bagian, antara aksi dan reaksi atau respon yang ada dalam persamaan.

Dengan kita berkomunikasi kita berusaha untuk memperolah makna, memahami berbagai makna, hingga komunikasi itu dapat menjadi suatu proses transaksi dan proses pembentukan suatu makna pada dua orang atau lebih. Proses tersebut terus berlangsung dan dinamis menerima dan mengirimkan pesan dengan tujuan memperoleh berbagai makana.

Pertalian Etika dan Komunikasi

Keterkaitan antara etika dan komunikasi tersebut, menjadi hal yang penting dalam proses pemaknaan. Isu-isu mengenai etika muncul kepermukaan setiap kali pesan-pesan memiliki kemungkinan untuk mempengaruhi orang lain. Ketika kita berbohong misalnya kita akan mempersentasikan suatu makalah kita diman nota bene makalah itu adalah hasil ciplakan dari ide pemikiran teman. Contoh lain ketika kita tidak mengumpulkan tugas dan berbohong kepada dosen kita dengan berdalih bahwa ada acara keluarga sehingga tidak sempat mengerjakan tugas tersebut. Contoh- contoh ini merupakan suatu implikasi bahwa rendahnya rasa untuk menghormati orang yang lebih tua, terlebih kepada orang yang berada dalam tataran edukasi seperti seorang dosen. Beretikakah membohongi dosen dengan dalih tersebut yang nota bene tidak benar?

Dalam berkomunikasi kita bukan semata-mata untuk mencapai suatu keutuhan makna bersama. Tetapi juga lebih pada peningkatan etika dalam pencapaian suatu konstruksi diri yang mengatasi pemahaman. Cara kita berkomunikasi, dalam konteks ini secara verbal, juga mendeskripsikan bagaimana alur pemikiran kita. Pemikiran atau persepsi yang sistematis secara sadar atau tidak kita pun berperilaku atau bertutur kata seperti layaknya pemikiran atau persepsi tersebut. Persepsi merupakan suatu tendensi arah atau sudut pandang kita dalam mengapresiasi sesuatu.

 

Penutup

Pemaparan di atas menunjukkan suatu keterkaitan antara komunikasi dan etika menjadi suatu kesatuan. Memang harus dipahami bahwa etika adalah ilmu yang cukup general dalam kajiannya. Etika menerobos banyak aspek disiplin ilmu, salah satunya ialah dalam Ilmu Komunikasi ini, dan lebih spesifik lagi dalam konsentrasi Jurnalistik. Konsentrasi tersebut memiliki matakuliah yang diberi nama etika jurnalistik. Maka jelaslah bahwa etika merupakan sesuatu yang essensial dalam ranah kehidupan manusia. Etika dapat mengubah pandangan atau persepsi seseorang terhadap orang lain. Etika merupakan suatu pandangan realistis mengenai tingkah laku atau tutur sapa seseorang. Dari sebab itu, komunikasi memberikan tempat yang cukup luas untuk etika. Karena memang etika mendapat nilai yang lebih dalam menentukan prsepsi seserang.

Sumber Bacaan :

Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi; Suatu Pengantar, 2010. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

West, Richard. Lynn H. Turner. Pengantar Teori Komunikasi; Analisis dan Aplikasi. [Judul Asli: Introducing Communication Theory; Analysis and Aplication] 2007. Dialih bahasakan oleh Maria Natalia Damayanti Meer.  Penerbit Salemba Humanika. Jakarta.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: